SK : Membaca Memahami Ragam Teks Nonsastra Dengan Berbagai Cara Membaca KD : Menyimpulkan Isi Bacaan Setelah Membaca Cepat 200 kata permenit

Posted On June 2, 2010

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Membaca Cepat 200 Kata per Menit

Membaca merupakan salah satu kegiatan untuk mendapatkan informasi. Membaca cepat adalah membaca dengan teknik cepat tanpa mengurangi pemahaman terhadap isi bacaan. Kemampuan membaca dengan kecepatan yang tinggi sangat berpengaruh dalam pemahaman isi bacaan. Berlatih membaca dengan kecepatan tertentu perlu dikembangkan. Kebiasaan membaca bersuara, menggerakkan bibir, atau menunjuk kata- perkata dengan jari atau pensil akan menghambat kecepatan membaca. Kecepatan membaca dapa dihitung dengan rumus:

jumlah kata yang dibaca per jumlah detik yang digunakan x 60 = hasilnya adalah Jumlah Kata per Menit (Kpm)

Berikut beberapa langkah untuk berlatih membaca cepat

  1. Cek Mata, pastikan mata kita dalam kondisi baik, kalau memang perlu menggunakan kacamata sebaiknya digunakan.
  2. Ukur kecepatan membaca. Cobalah membaca selama satu menit lalu kemudian hitung berapa kata yang telah dibaca. Hal ini bisa kita jadikan tolak ukur dan motivasi untuk meningkatkan kemampuan membaca kita.
  3. Jauhkan semua gangguan yang mungkin akan menghilangkan konsentrasi kita ketika sedang membaca (termasuk pacar/suami/istri yang sering jail).
  4. Berlatih untuk bisa mendeteksi bagian mana yang penting dan bagian mana yang kurang penting dalam suatu bacaan sehingga kita bisa lebih mengefesienkan waktu membaca kita.
  5. Cobalah untuk tidak mengulang kembali kata yang sudah dibaca.
  6. Berlatih membaca kumpulan kata (blok kata) bukan kata-perkata.
  7. Terus paksakan berlatih dan ukur selalu peningkatan yang dicapai.
  1. 1. Metode gerak mata

Metode ini merupakan cara membaca dengan memperluas jangkauan mata dan mengurangi regresi/pengulangan. Bacalah teks dalam hati dengan memperluas pandangan jangkauan mata. Usahakan jangan sampai mengulang kata atau kalimat yang sudah kamu baca. Membaca mundur disebut regresi. Hal itu akan memperlambat kecepatan membaca dan mengganggu dalam memahami isi bacaan.

2. Menghilangkan kebiasaan membaca dengan bersuara

Dalam membaca cepat, bacalah teks dalam hati! Janganlah kamu membaca dengan bersuara dengan mulut bergerak-gerak seperti akan menyuarakan sesuatu.

Jangan menggunakan wajah, tangan, dan alat lain untuk menunjuk kata demi kata dalam bacaan tersebut. Hal itu akan memperlambat kamu dalam membaca cepat.

3.Meningkatkan konsentrasi

Fokuskan konsentrasi, meliputi mata, pikiran, maupun hati pada isi bacaan. Pikiran harus bersih dan positif. Jangan diisi hal-hal lain atau pendapatmu sendiri ketika sedang membaca. Hati kita pun harus senang, ikhlas, dan bersungguh-sungguh. Hal-hal tersebut akan membantu kita memahami isi bacaan dengan lebih maksimal.
Kecepatan membaca dihitung dengan KPM (kecepatan per menit). Jadi, perhitungannya = banyaknya kata yang dibaca dalam waktu satu menit.

Contoh:

Jika ini anda membaca cepat sebuah teks sejumlah 1000 dalam waktu 5 menit, berarti kecepatan membaca sebagai berikut:

1000 X 60 = 200 kata per menit

300      .

LATIHAN :

Kultur Televisi Tidak Sejalan Dengan Pertumbuhan Kesenian Di Masyarakat

Industri televise di Indonesia belum mencapai titik temu dengan pertumbuhan masyarakat yang pada dasarnya masih hidup dalam system agraris. Baik bisnis televisi maupun masyarakat yang agraris itu sama-sama belum matang menuju system masyarakat industri. Oleh karena itu, dalam masa transisi seperti sekarang, tampaknya masih dibutuhkan waktu lama untuk mencapai titik temu tersebut. Hal itu mengemukadalam Seminar Seni Pertunjukan Indonesia seri kelima dengan tema “Peranan media dalam seni pertunjukan” yang diadakan oleh Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, Rabu (2/2). Garin Nugroho hadir sebagai pembicara bersama Ishadi S.K.,Fred Wibowo, dan Bambang Nusantara.

Garin mengatakan, industry televisi hidupdalam system kapitalisme yang konsumtif. Sementara itu, seni pertunjukan (tradisi) yang ada di tengah masyarakat sebenarnya masih hidup dalam budaya agraris, yang aturan-aturannya bertumpu pada hubungan mikro dan makrokosmos.

“masyarakat kita menghadapi dilemma dalam masa transisi ini. Di satu sisi seni pertunjukan semula hidup dalam system organisasi agraris, tetapi organisasinya kini sudah porak poranda, di sisi lain ketika mereka hendak masuk ke masyarakat, industry (televisi) di Indonesia sendiori belum terbangun dengan baik dan kehilangan panduan,” paparnya.

Sebagai ilustrasi ia menyebutkan banyak kalangan seni pertunjukan (treadisi) seperti kehilangan roh saat ditayangkan di televise. Dia mengatakan bahwa televisi memang ibarat “pasar malam”.

Garin lebih lanjut menggambarkan melalui televisi masyarakat kita seakan menjadi “masyarakat keluarga Indonesia”. Suatu kelompok masyarakat belum merasa menjadi bagian dari keluarga Indonesia sebelum masuk ke televisi. Begitu berpengaruhnya acara-acara hiburan di televisi sehingga televisi telah menjadi “upacara keluarga” di setiap rumah tangga.

Sementara itu, pakar pertelevisian Indonesia Ishadi S. K., M.Sc. mengakui bahwa televisi sering “dimusuhi” oleh kalangan seniman dan budayawan karena dianggap menghacurkan kebudayaan. Televisi, katanya, hanya membangun kebudayaan populer yang tidak punya nilai-nilai.

Oleh karena itu, diperlukan usaha bersama dua pihak untuk menghilagkan dikotomi tersebut. Bila mengharapkan televisi lebih memberi tempat bagi masalah kebudayaan dan seni pertunjukan (tradisi), perlu sebuah stasiun televisi yang “spesial” atau berbentuk TV kabel. “TVRI sebenarnya bisa menjadi seperti itu. Untuk itu, TVRI harus menghadirkan program-program yang mengandung nilai-nilai yang bisa dipertanggungjawabkan. Akan tetapi, TVRI harus benar-benar independen,”katanya.

Sumber: kompas, 3 februari 2002

  • Setelah membaca teks tersebut, hitunglah kecepatan membaca Anda dengan rumus yang telah ditentukan!

Jawablah pertanyaan berikut!

  1. Apa yang dimaksud dengan masyarakat agraris dan masyarakat industri?
  2. Mengapa televisi sering “dimusuhi” oleh kalangan seniman dan budayawan?
  3. Informasi penting apa sajakah yang Anda dapatkan dari teks tersebut?
  4. Ringkaslah isi teks tersebut dalam beberapa kalimat secara efektif!

Hello world!

Posted On May 19, 2010

Filed under Uncategorized

Comments Dropped one response

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.